Suasana di Pelabuhan Muara Karang pagi
itu sangat hiruk pikuk, dari mulai nelayan yang sibuk membawa gerobak berisi
ikan-ikan segar, hingga sekelompok wisatawan yang ingin menyebrang ke berbagai
pulau yang ada di Pulau Seribu. Bau amis begitu menusuk hidung, jalanan di sana
juga becek bercampur tanah, terlihat pula beberapa kapal kayu berukuran sedang
berjejer rapi di pinggir pelabuhan. Fajar, guide
yang memandu kami saat berada di Muara Angke masih tetap sibuk dengan
telepon genggamnya.
Saya dan ke-empat teman saya ingin
menyebrang ke Pulau Tidung, kami menaiki sebuah kapal kayu yang berukuran
sedang dan bisa memuat sekitar 50-70 penumpang. Kapal kayu tersebut terbagi dua
tingkat, saya dan teman-teman saya memutuskan untuk duduk di bawah saja, karena
memang kami semua mabuk laut, jadi kami memutuskan untuk mencari tempat yang
aman.
Di dalam kapal, saya merasa seperti
berada di kapal yang mengangkut sayur-sayuran, orang-orang bebas tidur dan
duduk semau mereka. Jaket pelampung berserakan di mana-mana, sampah-sampah bekas
makanan dan minuman-pun juga tersebar di mana-mana. Belum lagi beberapa anak
yang mabuk laut dan langsung memuntahkan isi perut mereka ke luar kapal dan
muntahan mereka lenyap
di lautan lepas.
Perjalanan ke Pulau Tidung memakan waktu
kurang lebih 2,5 jam. Pulau Tidung adalah salah satu pulau yang termasuk di
dalam gugusan Pulau Seribu. Pulau Tidung sendiri terbagi menjadi dua bagian,
Tidung besar dan Tidung kecil. Kebanyakan penduduk tinggal di Pulau Tidung
Besar, karena di Pulau Tidung Kecil hanya berisikan pepohonan dan terdapat
makam yang konon katanya beliau adalah penemu dari Pulau Tidung.
Penduduk Tidung terbagi menjadi 2 suku
keturunan, yakni suku Tidung Banten yang dibawa oleh Ki Turuf dari Kerajaan
Cirebon dan suku Tidung Kalimantan yang dibawa oleh Raja Pandita. Masih simpang
siur siapakah penemu dari Pulau Tidung ini, yang jelas pulau Tidung pernah
diinjak oleh dua orang besar dan wafat di sana.
Air laut berwarna biru muda dan sangat
jernih mulai terlihat saat saya mengeluarkan kepala saya ke jendela kapal.
Perjalanan 2,5 jam yang terasa cukup lama itu akhirnya berakhir. Saya langsung
membereskan barang-barang saya dan siap turun dari kapal.
Begitu turun dari kapal, kami disambut
oleh tulisan yang terpampang di gapura bertuliskan “Selamat Datang di Pulau
Tidung”. Begitu banyak orang yang lalu lalang dan baru saja turun dari kapal,
bukan hanya kapal saya, tetapi ada dua kapal lainnya yang baru saja menurunkan
penumpangnya.
Sesuai dengan perintah Fajar, kami
menelponnya untuk mengetahui siapa guide kami
di sini. Tidak lama setelah menelepon Fajar, datanglah seorang laki-laki
berbadan kurus serta berkulit hitam dengan rambut ikalnya yang terurai panjang
menghampiri kami ber-lima.
“Rombongannya Fajar ya? Saya Fajri, guide di sini,” katanya sambil menyalami
tangan kami semua.
Kami diantar oleh Fajri menuju tempat
penginapan, banyak sekali rumah yang tersedia di sana, dan kebanyakan bahkan
hampir semua rumah di Pulau Tidung ini dijadikan tempat penginapan. Dari mulai
rumah yang agak mewah, sampai rumah yang sangat sederhana tanpa fasilitas
pendingin ruangan. Itu semua sesuai dengan harga paket yang kita pilih.
Ini merupakan hari pertama kami di sini,
tujuan kami hari ini adalah menuju pantai perawan dan akan melihat sunset saat
maghrib nanti.
“Semuanya nanti ambil aja sepedanya di
sebelah nih, nanti kita selama di sini pake sepeda ya,” ujar Fajri sambil
membantu memasukan barang-barang bawaan kami.
Saya dan teman-teman saya mulai
menyusuri Pulau Tidung dengan menggunakan sepeda untuk melihat Pantai Perawan,
banyak sekali wisatawan yang datang ke sini untuk berlibur. Kebanyakan memang
para pelajar-pelajar yang menghabiskan waktu liburan mereka.
Pantai Perawan sangat sepi, sepertinya
tidak semua wisatawan dibawa kesini oleh para guide mereka. Saya dan teman-teman
saya merasa sangat beruntung karena kami dibawa ke pantai yang begitu indah.
Pasirnya begitu putih dan bersih, airnya
jernih dan berwarna sangat biru. Banyak sekali tumbuhan laut di tepi-tepi
pantainya. Banyak pula kayu-kayu besar yang terdapat di sepanjang pantai. Tapi
sayang, bagusnya pantai tersebut tercemar dengan sisa-sisa sampah pengunjung
yang datang ke pantai ini.
Hari sudah mulai gelap dan kami segera
menuju ke tempat melihat sunset yang terletak tidak jauh dari Pantai Perawan.
Di tempat melihat sunset, ada beberapa wisatawan yang datang kesini, beberapa
dari mereka bahkan sempat berenang di pinggiran pantai dan bersenda gurau
dengan teman-temannya.
Langit sudah mulai terlihat berwarna
kuning kemerah-merahan, matahari semakin turun secara perlahan, bulatnya
matahari sangat terlihat jelas, seolah-olah kami dapat menyentuh matahari
tersebut.
Hari kedua adalah hari bersenang-senang
bagi kami, karena hari ini kami semua akan bermain dengan air laut. Snorkling
dan banana boat adalah kegiatan yang akan kami lakukan. Kami melakukan
snorkling bukan di Pulau Tidung, melainkan di sebuah Pulau kecil yang terletak
tidak jauh dari Pulau Tidung.
Perjalanan ke Pulau Kecil tersebut
memakan waktu hampir 30 menit dengan menggunakan kapal cepat. Kami melewati
lautan lepas yang dalam, warna laut begitu biru, bahkan biru sangat tua, jelas
sekali kami semua melewati laut dalam.
Snorkling di pualu kecil itu sangat
menyenangkan, begitu banyak ikan-ikan kecil yang lucu, batu karang besar yang
begtiu indah dan air yang sangat jernih benar-benar menhyadarkan kami semua
bahwa Indonesia sangat indah dan memiliki keindahan laut yang luar biasa.
Semoga saja semua keindahan yang ada di
pulau ini terus terjaga dan semua orang sadar bahwa begitu pentingnya
memelihara ciptaan Tuhan dan keindahan negeri sendiri.
Mayang Sekar Arum
11140110137
Tidak ada komentar:
Posting Komentar