Selasa, 07 Mei 2013

Melancong ke Tidung

“Saya hanya nganter sampai sini saja, nanti di sana sudah ada guide yang menunggu. Telfon saya lagi saja kalau sudah sampai di sana,” ujar Fajar sambil sibuk mengutak-atik telepon genggamnya.

Suasana di Pelabuhan Muara Karang pagi itu sangat hiruk pikuk, dari mulai nelayan yang sibuk membawa gerobak berisi ikan-ikan segar, hingga sekelompok wisatawan yang ingin menyebrang ke berbagai pulau yang ada di Pulau Seribu. Bau amis begitu menusuk hidung, jalanan di sana juga becek bercampur tanah, terlihat pula beberapa kapal kayu berukuran sedang berjejer rapi di pinggir pelabuhan. Fajar, guide yang memandu kami saat berada di Muara Angke masih tetap sibuk dengan telepon genggamnya.

Saya dan ke-empat teman saya ingin menyebrang ke Pulau Tidung, kami menaiki sebuah kapal kayu yang berukuran sedang dan bisa memuat sekitar 50-70 penumpang. Kapal kayu tersebut terbagi dua tingkat, saya dan teman-teman saya memutuskan untuk duduk di bawah saja, karena memang kami semua mabuk laut, jadi kami memutuskan untuk mencari tempat yang aman.

Di dalam kapal, saya merasa seperti berada di kapal yang mengangkut sayur-sayuran, orang-orang bebas tidur dan duduk semau mereka. Jaket pelampung berserakan di mana-mana, sampah-sampah bekas makanan dan minuman-pun juga tersebar di mana-mana. Belum lagi beberapa anak yang mabuk laut dan langsung memuntahkan isi perut mereka ke luar kapal dan muntahan mereka lenyap 
di lautan lepas.

Perjalanan ke Pulau Tidung memakan waktu kurang lebih 2,5 jam. Pulau Tidung adalah salah satu pulau yang termasuk di dalam gugusan Pulau Seribu. Pulau Tidung sendiri terbagi menjadi dua bagian, Tidung besar dan Tidung kecil. Kebanyakan penduduk tinggal di Pulau Tidung Besar, karena di Pulau Tidung Kecil hanya berisikan pepohonan dan terdapat makam yang konon katanya beliau adalah penemu dari Pulau Tidung.

Penduduk Tidung terbagi menjadi 2 suku keturunan, yakni suku Tidung Banten yang dibawa oleh Ki Turuf dari Kerajaan Cirebon dan suku Tidung Kalimantan yang dibawa oleh Raja Pandita. Masih simpang siur siapakah penemu dari Pulau Tidung ini, yang jelas pulau Tidung pernah diinjak oleh dua orang besar dan wafat di sana.

Air laut berwarna biru muda dan sangat jernih mulai terlihat saat saya mengeluarkan kepala saya ke jendela kapal. Perjalanan 2,5 jam yang terasa cukup lama itu akhirnya berakhir. Saya langsung membereskan barang-barang saya dan siap turun dari kapal.

Begitu turun dari kapal, kami disambut oleh tulisan yang terpampang di gapura bertuliskan “Selamat Datang di Pulau Tidung”. Begitu banyak orang yang lalu lalang dan baru saja turun dari kapal, bukan hanya kapal saya, tetapi ada dua kapal lainnya yang baru saja menurunkan penumpangnya.

Sesuai dengan perintah Fajar, kami menelponnya untuk mengetahui siapa guide kami di sini. Tidak lama setelah menelepon Fajar, datanglah seorang laki-laki berbadan kurus serta berkulit hitam dengan rambut ikalnya yang terurai panjang menghampiri kami ber-lima.

“Rombongannya Fajar ya? Saya Fajri, guide di sini,” katanya sambil menyalami tangan kami semua.
Kami diantar oleh Fajri menuju tempat penginapan, banyak sekali rumah yang tersedia di sana, dan kebanyakan bahkan hampir semua rumah di Pulau Tidung ini dijadikan tempat penginapan. Dari mulai rumah yang agak mewah, sampai rumah yang sangat sederhana tanpa fasilitas pendingin ruangan. Itu semua sesuai dengan harga paket yang kita pilih.

Ini merupakan hari pertama kami di sini, tujuan kami hari ini adalah menuju pantai perawan dan akan melihat sunset saat maghrib nanti.

“Semuanya nanti ambil aja sepedanya di sebelah nih, nanti kita selama di sini pake sepeda ya,” ujar Fajri sambil membantu memasukan barang-barang bawaan kami.

Saya dan teman-teman saya mulai menyusuri Pulau Tidung dengan menggunakan sepeda untuk melihat Pantai Perawan, banyak sekali wisatawan yang datang ke sini untuk berlibur. Kebanyakan memang para pelajar-pelajar yang menghabiskan waktu liburan mereka.

Pantai Perawan sangat sepi, sepertinya tidak semua wisatawan dibawa kesini oleh para guide mereka. Saya dan teman-teman saya merasa sangat beruntung karena kami dibawa ke pantai yang begitu indah.

Pasirnya begitu putih dan bersih, airnya jernih dan berwarna sangat biru. Banyak sekali tumbuhan laut di tepi-tepi pantainya. Banyak pula kayu-kayu besar yang terdapat di sepanjang pantai. Tapi sayang, bagusnya pantai tersebut tercemar dengan sisa-sisa sampah pengunjung yang datang ke pantai ini.

Hari sudah mulai gelap dan kami segera menuju ke tempat melihat sunset yang terletak tidak jauh dari Pantai Perawan. Di tempat melihat sunset, ada beberapa wisatawan yang datang kesini, beberapa dari mereka bahkan sempat berenang di pinggiran pantai dan bersenda gurau dengan teman-temannya.

Langit sudah mulai terlihat berwarna kuning kemerah-merahan, matahari semakin turun secara perlahan, bulatnya matahari sangat terlihat jelas, seolah-olah kami dapat menyentuh matahari tersebut.

Hari kedua adalah hari bersenang-senang bagi kami, karena hari ini kami semua akan bermain dengan air laut. Snorkling dan banana boat adalah kegiatan yang akan kami lakukan. Kami melakukan snorkling bukan di Pulau Tidung, melainkan di sebuah Pulau kecil yang terletak tidak jauh dari Pulau Tidung.

Perjalanan ke Pulau Kecil tersebut memakan waktu hampir 30 menit dengan menggunakan kapal cepat. Kami melewati lautan lepas yang dalam, warna laut begitu biru, bahkan biru sangat tua, jelas sekali kami semua melewati laut dalam.

Snorkling di pualu kecil itu sangat menyenangkan, begitu banyak ikan-ikan kecil yang lucu, batu karang besar yang begtiu indah dan air yang sangat jernih benar-benar menhyadarkan kami semua bahwa Indonesia sangat indah dan memiliki keindahan laut yang luar biasa.

Semoga saja semua keindahan yang ada di pulau ini terus terjaga dan semua orang sadar bahwa begitu pentingnya memelihara ciptaan Tuhan dan keindahan negeri sendiri.

Mayang Sekar Arum
11140110137

Tidak ada komentar:

Posting Komentar